Sehari di Yogyakarta, Dijamin Luar Biasa!

Share

Wisata di Yogyakarta ternyata bisa dilakukan dalam waktu sehari. Tempat-tempat yang dikunjungi pun bukan hanya satu tempat, melainkan bisa lebih dari satu tempat dengan biaya yang tidak harus mahal. Hal ini patut Anda coba!

Lazada Indonesia

Cerita berawal ketika saya dan teman saya, Maul, akan ke Surabaya untuk memulai tur Jawa-Bali-Lombok. Namun, tiket kereta semua kelas untuk hari yang ditentukan, yang langsung ke Surabaya ternyata habis. Akhirnya kita memutuskan untuk naik kereta ke Yogyakarta lalu lanjut ke Surabaya naik kereta lagi. Perjalanan Jakarta-Yogyakarta cukup nyaman. Pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, kita sampai di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

Dari dulu saya masih kurang paham kenapa Yogyakarta dibilang Jogja, huruf Y diganti jadi J. Padahal pada kata yang lain, huruf J jadi Y, seperti di kata “BAJAJ”, bacanya jadi “bajay”, tidak konsisten ya bahasa kita. Ya sudahlah, hehe. Begitu sampai di stasiun, hal pertama yang kami cari adalah tiket ke Surabaya, karena besok  harus sudah berada di Surabaya untuk naik KA Mutiara Timur yang tiketnya sudah dibeli oleh teman saya dari Malang. Alhamdulillah, kami dapat tiket Gaya Baru Malam yang berangkat sekitar jam 9 malam, seharga Rp 31.500.

Tiket dapat, perut pun teriak, akhirnya kita menyerbu angkringan di sekitar Stasiun Lempuyangan untuk sarapan. Awalnya, di angkringan kami cuma pesan teh hangat, karena merasa nasi kucing kurang pas untuk ukuran sarapan kita. Untungnya ada penjual soto campur dekat angkringan, jadi kami pesan soto ayam campur yang harganya cuma Rp 5.000 per porsi. Kalau nambah sate ati hanya Rp 1.000 seribu per tusuk. Selesai sarapan kami mau melanjutkan perjalanan, tapi badan kayanya butuh penyegaran, jadilah kami mencari toilet umum buat mandi dll.

Kemudian kami singgah untuk bersih-bersih di toilet umum dekat Stasiun Lempuyangan, yang di sana juga ada parkiran motor inap. Rencananya kami juga mau menitip tas  yang ‘segede gaban’ biar jalan-jalannya lebih santai. Tapi ternyata di parkiran motor itu tidak bersedia untuk dititipkan tas. Tanya sana sini, akhirnya tas kami bisa dititipkan di masjid stasiun, dengan biaya seikhlasnya. Alhamdulillah.

Setelah dapat penitipan tas, kita bingung mau kemana, karena sebenarnya jalan-jalan di Yogyakarta tidak masuk agenda kami. Keputusan pun diambil, kami meninggalkan Stasiun Lempuyangan menuju ke halte Trans Yogya terdekat. Naik Becak biayanya Rp 10.000, agak mahal, tapi ya kasihan juga sama tukang becaknya. Begitu sampai di halte kita bingung lagi mau kemana. Tanya-tanya sama petugas Trans Yogya, kayanya Candi Prambanan cukup menarik untuk mengisi waktu. Ongkos naik Trans Yogya cuma Rp 3.000 per orang. Di perjalanan kami sempat membandingkan antara Trans Yogya dengan Trans Jakarta. Saya merasa Trans Yogya lebih manusiawi dibandingkan dengan Trans Jakarta, karena petugasnya yang lebih ramah.

Sekitar 50 menit, kami sampai di shelter Candi Prambanan. Kami bingung lagi mau naik apa dari shelter ke komplek Candi, akhirnya kami naik becak lagi, dan membayar Rp 10.000. Sampai di gerbang loket candi, beli tiket dengan harga Rp 20.000, jika mau paket tur ke Candi Ratu Boko, harganya Rp 30.000. Kami pilih yang Rp 20.000 saja. Di kawasan Candi Prambanan ada juga Candi Sewu dan Candi Lumbung. Cuaca di sana cukup panas, jadi disarankan kalau mau kesana bawalah payung atau minimal topi. Jika tidak bawa payung atau topi jangan khawatir, karena di sana ada yang menyewakan payung dan juga ada yang menjual topi di pasar suvenir sebelum loket.

Selain itu, disarankan pula memakai kaca mata hitam, agar mata tidak terlalu sakit kena silaunya matahari dan juga membawa air minum. Melihat Candi Prambanan yang megah merupakan pengalaman pertama bagi saya. Ternyata bagus juga candinya, tidak terbayang bagaimana orang-orang zaman kerajaan bisa bikin candi yang begitu megah. Tapi sayangnya waktu kita di sana sedang ada bagian candi yang direnovasi, jadi ada beberapa tempat yang tidak dapat kita kunjungi.

Setelah lelah berputar-putar komplek candi, minuman segar adalah sesuatu yang wajib hukumnya. Berjalan lumayan jauh, akhirnya kami membeli minum di sebuah restoran. Dekat restoran yang jual minuman ada pohon jambu mete alias jambu monyet, teman saya, Maul katanya lagi ngidam sama jambu itu. Lalu minta izin orang resto buat minta jambu, dan ternyata diizinin, langsung saja kami ambil jambu sekitar 3 biji. Rasanya sepet agak asam, tapi banyak sekali mengandung air, sangat mendukung untuk cuaca yang lagi panas-panasnya. Boleh dicoba kalau ada yang berkunjung kesana. Sambil makan jambu kita akan melewati penangkaran rusa sebelum sampai ke pasar suvenir dan pintu keluar.

Lelah setelah mengunjungi Candi Prambanan, kami pun langsung makan di angkringan dekat pintu masuk kawasan candi. Saya makan dengan menu nasi kucing ikan, tempe goreng dan minumnya es tawar, cuma bayar Rp 3.000 saja, murah kan. Sehabis makan kami sholat di masjid dekat komplek Masjid, masjidnya kental dengan ornamen jawa. Setelah sholat kami berangkat menuju Taman Pintar.

Sesampainya di Taman Pintar, ternyata sedang ada acara dari Walikota Yogya. Kami sempat sholat dan mengisi baterai handphone di mushola Taman Pintar, karena waktu yang sudah sore, kita memutuskan untuk tidak masuk ke gedung, karena sebentar lagi tutup. Jadi kita hanya sempat foto-foto dan mengunjungi tempat yang di luar gedung. Di luar gedung pun menurut saya sudah sangat bagus dan informatif. Ada beberapa wahana yang cukup interaktif, seperti taman air mancur yang cukup membuat segar kalau lagi kepanasan dan juga ada prasasti yang berisi riwayat presiden-presiden Indonesia yang dilengkapi dengan suara dari setiap presiden.

Mungkin yang paling menonjol dan menarik perhatian saat kita datang adalah gong besar, yang berisi lambang seluruh provinsi dan kabupaten di Indonesia, dan sebelum gong ada air mancur yang membentuk lorong. Selain itu ada pula miniatur desa yang bertema “Desaku Permai”. Setelah dari Taman Pintar kami sempat makan makanan yang baru saya temui di Yogya yaitu Burger Jamur. Burger dengan isi daging buatan dari jamur. Rasanya cukup lezat untuk burger seharga Rp 5.000.

Lalu kita lanjut berjalan ke alun-alun Keraton untuk menikmati sore hari Kota Yogya. Sepanjang perjalanan, kami melihat gedung-gedung bergaya klasik yang masih berdiri kokoh. Salah satunya dijadikan kantor pos. Lalu dilanjutkan dengan mengunjungi masjid dekat Keraton Yogya. Saat hari senja, kami beranjak ke Jalan Malioboro sebelum akhirnya kembali ke Stasiun Lempuyangan dengan Trans Yogya untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Sungguh perjalanan sehari yang di luar dugaan. Niat hati hanya ingin transit di Yogya, ternyata saya dan teman Maul telah mengunjungi Candi Prambanan, Taman Pintar, Keraton Jogja, dan Malioboro hanya dalam waktu kurang dari 18 jam, ditambah bonus mencicipi jambu monyet khas Prambanan dan burger jamur menjadi pengalaman transit yang paling menarik buat Saya.

Lazada Indonesia

Ayo kita ke Yogya, walaupun waktumu sempit dan tidak ada kendaraan pribadi, ternyata bukan alasan untuk tidak dapat berwisata dan menikmati eksotika di kota budaya, Yogyakarta.

oleh : Febrianto Iyank Lesmana via Detik Travel

(702)

Share
1